ASSALAMMUALAIKUM WR WB 

WELCOME TO MY BLOG BY FARHAN


Semesta Indah

Memaknai Semesta dan Puisi

Di dunia ini, sekurang-kurangnya, masing-masing kita memiliki semesta-semesta sendiri. Para penyair punya semesta rasa dan penghayatan dalam kepalanya yang coba ia tarik keluar. Hasilnya kemudian adalah munculnya bait-bait yang begitu rupa kedalaman penghayatannya.
Para pemikir sedikit berbeda, mereka berusaha memasukkan semesta yang abstrak, teratur, tetap dalam kepalanya yang kecil, maka pusinglah mereka.
/1/
Puisi sebagai bentuk nyata penghayatan pada semesta rasa kadang berlaku sama abstraknya dengan beberapa implikasi teori-teori kealaman, walau pada dasarnya beda tinjauan. Tak mengherankan ia menimbulkan ragam tafsir dan tak terpahami sepenuhnya. Mari tengok beberapa bait puisi berikut.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
― Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin.
Dua bait puisi di atas terasa begitu menghujam ke dalam dada saya kala itu. Walau tak sedang dalam kondisi penghayatan ekstra, maknanya terlepas dari sekadar kata beberapa baris. Pemilihan bahasa yang lembut, indah, sederhana itu punya daya ledak luar biasa. Walhasil, saya memiliki tafsir tersendiri yang juga meledak tentang puisi tersebut dalam semesta rasa.
Sependek penghayatan saya, seolah ada ruang sisa di dalamnya—yang  disadari atau tidak—mengajak pembaca untuk mengisinya sendiri-sendiri. Dalam tulisan ini, saya tak berniat menafsirkannya, biarlah penafsiran masing-masing kita menjadi milik pribadi saja.
/2/
Melepaskan makna dari kata adalah hal rumit dan senantiasa menjadi ikhtiar manusia dalam sejarah Hermeneutika (sebuah telaah mendasar tentang intrepetasi, menyangkut tafsir).  
Namun, memecah-mecah uraian sejarah dan buah pikir para penyingkap tabir semisal Hans Georg Gadamer, Edmund Husserl, Martin Heidegger, maka bahasa tak akan terlalu berguna jikalau kita sebagai pelakon komunikasi lalai mencoba masuk menyelam ke dalam makna.
Seberapa pentingkah makna dan kenapa ia harus sampai lewat kata?
Bukankah, harusnya, makna tidak terkungkung oleh kata?
Bagaimana caranya, kata bisa menyampaikan maksud secara utuh?
Seutuh apakah makna yang tereduksi itu?
Tidak adakah bahasa lain yang mampu melepaskan manusia dari keterbatasannya?
Sederet pertanyaan di atas seolah mengarahkan kita pada kesadaran tentang keharusan kita melek bahwa kemampuan manusia berkomunikasi belum setingkat alien dari ras humanoid yang bisa bertelepati. Atau sekelas dengan  makhluk asing dalam film PIKU yang hanya menyentuh dan selanjutnya bisa memahami orang yang disentuhnya.
Kelemahan alamiah kita adalah penggunaan medium. Dan dalam sejarah perbedaan submedium bisa menyebabkan bias. Analog ketika persentuhan dua submedium membuat pensil dalam gelas berisi air seolah terlihat bengkok.



Comments